Friday, August 29, 2008

Kampusku... mau kemana?


Sekitar tanggal 21 Agustus 2008 kemarin, ada launching logo UIN terbaru di kampus peradaban kami. Dengan agak kesal dan heran saya hanya bisa terpaku. I wonder “Why?!” kenapa? Kenapa? Kenapa bisa berubah?

Logo UIN yang terbaru memiliki warna dasar biru putih. Dengan bola dunia warna biru polos dan bintang segi lima (kata uci, segi enam deh..h3x) warna kuning agak emas yang menindihnya. Kemudian bola dunia dan bintang segi lima itu (mungkinkah bintang daud) ditindih lagi dengan lambang buku yang diatasnya terdapat tulisan UIN. Phhuhhh….

Kenapa harus tiba-tiba begini logo terbaru keluar? Apakah tidak bisa disosialisasikan dulu kepada mahasiswa. Kalau perlu diadakan sayembara bagi mahasiswa yg ingin ikutan design logo kampusnya sendiri. Mungkinkah mahasiswa dianggap tidak penting di kampus ini?

Pada dasarnya saya tidak suka logo UIN paling baru itu karena,,, UIN akan kehilangan nilai historisnya. Maksudnya, sudah sekian lama UIN memiliki logo sebegitu bermaknanya dengan Al-Qur’an berada di tengah dan tiba-tiba dihilangkan begitu saja. Itu sama saja menghilangkan nilai sejarah UIN yang sudah berdiri sejak lama.

Hmm… Wallahu a’lam. Saya memang orang awam. Saya memang tidak mengerti apapun. Namun saya sungguh menyesal dengan kebijakan ini. Entah dengan mahasiswa yang lain.

Sunday, August 24, 2008

di FATHULLAH...


“disini ci2 nemuin saudara2 yang bikin semangat lageeeee smuanya dihadapin bareng2 walopun masih kyk naq kcil tp cara kalian menghadapi masalah bikin aq percaya kalian adalah pilihan2 Allah .Semangat y...saudaraku! sapa tau qt ketemu d surga Amiiin ngomong2 k surganya ndiri-ndiri pa janjian di Fathullah he3x”


Testimony diatas ditulis oleh salah seorang sahabat saya, Rose Febrian C, di Komda FAH. Agak mengharukan sekaligus lucu juga membacanya. Apalagi ketika dia menawarkan apakah kita akan janjian ngumpul di Fathullah untuk pergi ke surga? Hmm…

Sebenarnya, apa yang ditawarkan sahabat saya itu benar adanya. Kita bisa menjadikan Fathullah (Masjid UIN Ciputat) sebagai tempat janjian untuk pergi ke surga. Sebenarnya bukan Cuma Fathullah saja. Disini saya menjadikan nama FATHULLAH sebagai perwakilan sebuah rumah Allah (dimana saja) yang bernama MASJID.

Ya, Fathullah memang tempat janjian yang pas untuk pergi ke surga. Karena disana ialah tempat favorite bagi ummat Islam untuk beribadah dengan apa-apa yang Allah perintahkan. Ya, pasti kita sudah tau apa fungsi masjid itu. Fungsinya, sudah jelas sekali, yakni sebagai tempat sholat fardhu berjama’ah, mengkaji dan berdiskusi tentang ilmu-ilmuNya, tempat membaca Al-Qur’an dan mengkajinya, dsb. Apalagi pada zaman Rasulullah SAW dulu, masjid berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Disana dibicarakan tak hanya soal agama, melainkan urusan Negara, pemerintahan, juga ummat. Ya, masjid memang tidak pernah mati untuk urusan kebaikan. Maka kenapa saya bilang, tepat sekali jika Cici (panggilan Rose) menawarkan kita janjian ke surga di Fathullah. Hmm…

Ya Allah, entah nanti diriku berada di lubang kubur yang mana; taman surgakah atau lubang neraka? Entah nanti diriku berbaring di tanah yang mana; yang adem dan nyamankah atau yang panas dan membakar? Entah nanti diriku dipeluk oleh tanah yang mana; yang rindu kepadaku karena kebaikanku atau yang murka akan banyaknya keburukanku? Entah nanti diriku akan didatangi oleh penjaga kubur yang mana; yang berseri-seri atau yang menakutkan? Entah nanti diriku akan dibangkitkan seperti apa; utuh dengan segala kesempurnaan seperti ketika di dunia ataukah dengan keadaan yang paling buruk?

Dan Ya ALLAH, NANTI AKU BERADA DI BARISAN YANG MANA; DI BARISAN ORANG-ORANG YANG INGKARKAH ATAU DI BARISAN RASULULLAH YANG TELAH SIAP MEMBAGI SYAFA’ATNYA UNTUKKU??

Sungguh—aku takut ketika aku masuk ke dalam barisan Rasulullah nanti, aku diusir dengan paksa karena keburukanku di dunia. Aku takut!!

Ya Rabbul izzati, jadikanlah Fathullah menjadi saksi atas kebaikan yang kami perbuat. Dan semoga segala keburukan dari kami, dibuangnya jauh dan tidak ditampakkan di yaumil akhir nanti. Aku malu!!

http://fadhilatulip.blogspot.com
Menjelang RAMADHAN, begitu indah.

Friday, August 22, 2008

LiQo 1jam bersama Tukang Sayur




Sesungguhnya ilmu itu bisa didapat dari siapapun, bahkan dari budak berkulit hitam legam sekalipun. Itulah sebenarnya pandangan yang harus kita pelihara. Sehingga akan menjadikan kita berpikiran luas dan jauh dari sikap sombong dan berbangga hati. Sudah lama saya melihat dan mengagumi sosok tukang sayur dengan wajah yang teduh dan bersinar di daerah sekitar BBS. Namun baru tanggal 22 agustus 2008 kemarin, dibantu seorang sahabat bernama Lia Amalia, menemuinya secara khusus dan berbincang-bincang. Wajahnya teduh sekali. Tanpa perlu saya harus melihatnya usai sholat Jumat (konon katanya, wajah laki-laki berada di puncak cahaya yang paling bersinar yakni ketika mereka usai melaksanakan sholat Jumat).
Tukang sayur yang berusia sekitar 60 tahun tersebut benar-benar special. Yang membuat istimewa ialah, kebiasaan dirinya untuk meninggalkan dagangannya ketika waktu sholat tiba. Dan dia hanya meninggalkan sepotong kardus bertuliskan “SEDANG SHOLAT”. Subhanallah!! Ketika ditanya alasan dia selalu melakukan hal tersebut dia menjawab, “karena yang lain tidak kuat imannya. Ini kan TAUHID, hal yang paling mendasar.” Saya trenyuh mendengarnya. Ya Tuhan, sungguh matang ilmunya meski sedikit. Dia benar-benar paham akan kebenaran-Mu.
Tukang sayur itu bernama pak H.M. Sugeng. Cukup banyak hal yang dibicarakan olehnya. Namun kebanyakan ialah mengenai keikhlasan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dia berkata, hidup ini harus ikhlas, sungguh-sungguh, serta tawakal dan ikhtiar. Dalam bekerja di dunia, katanya, kita butuh prinsip. Setidaknya ada 5 prinsip yang harus kita miliki: 1. Segala sesuatu di dunia ini ditujukan untuk beribadah kepada Allah 2. Mencukupi kebutuhan keluarga 3. Mendidik anak-anak hingga menjadi sholeh-sholehah 4. Menunaikan ibadah haji dan mengunjungi makam Rasulullah 5. shodaqoh dan amal jariyah setidaknya itu yang harus ditanamkan dalam hati.
Karena, katanya lagi, hidup itu harus berusaha, berdo’a, dan tawakkal. Ibarat tanaman yang baru ditanam, tidak langsung tumbuh dengan kuat. Namun ia harus layu dulu sebelum akarnya kuat dan tumbuh daun dan hijau dan memiliki bunga yang mekar. Ya, hidup itu butuh proses. Banyak kisahnya yang sangat menginspirasi. Salah satunya yakni ketika ia bercerita ketika ia membangun rumah dan ia berpikir, sepertinya kebesaran jika dibuat rumah (padahal bangunannya sangat sederhana). Akhirnya ia memutuskan (setelah berembuk dengan istri) untuk membagi dua bangunan rumahnya dan membuatnya mushola untuk lingkungannya. Karena ia pikir, kenapa belum ada mushola di sekitar rumahnya. Setelah beberapa saat ia memiliki mushola yang dinamakan Raudhotul Jannah tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk mewakafkannya. Hmm,, sungguh kisah yang indah.
Dia berkata, hidup ini harus ikhlas, karena hanya dengan keikhlasan hidup kita yang sulit akan menjadi mudah. Dan dia berpesan kepada kami agar menjadi generasi muda yang memiliki pegangan kuat dan pandangan yang luas serta jangan cepat menyerah. Satu hal lagi yang membuat kami tersenyum, dia berpesan banyak soal kehidupan rumah tangga. Katanya, dalam berumah tangga itu yang harus diniatkan pertama ialah dalam rangka mencapai keberhasilan yang diridhoi Allah SWT. Dan dalam mendidik anak, harus sabar sepreti yang Rasulullah SAW contohkan. Kita harus ulet. Perlu diketahui, bapak Sugeng hanya lulusan SD, namun ia berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga masing-masing menjadi Arsitek dan Bidan.
Subhanallah… Sunguh, saya dan Lia beruntung sekali dapat mendengar hikmah yang begitu banyak dari sosok tukang sayur ini meski hanya 1jam. Ya, kami mendapat liqo tambahan minggu ini dengan murobbi yang luar biasa. Wallahua’alam bish showab

Monday, August 18, 2008

fenomena angkutan umum -- jangan mau ditekan terus!


Transportasi di negeri ini memang semakin karuan. Hmm—baru2 ini ada berita kecelakaan kereta di Lampung. Trus, kecelakaan kereta berikutnya ada lagi di tempat lain. sebelumnya –taun 2007 kebelakang—booming banget kecelakaan pesawat.
Memang—rada2 susah ngatur transportasi orang2 Indonesia yang udah terbiasa agak ngawur.

Yang ingin saya ceritakan saat ini, mengenai transportasi darat saja. Yakni ttg bis yg mungkin dikenal oleh mahasiswa UIN. Yup—itu dia bis sejuta ummat yang warna kuning. Phhuihhh---agak sebel juga dengan bis ini. Udah jadi rahasia umum ketika kita naik bis tersebut, harus berdesak2an dengan tidak nyaman dengan para penumpang yang lain. bis sudah sangat penuh malah dibilang masih kosong. Lalu ngetem sembarangan. Dan bayarnya tetap naik. Kenapa ga udah bayar aja sekalian? Wong supir dan kondekturnya tidak memperhatikan keselamatan para penumpangnya kok.

Tapi yg bikin gemes, para polisi jalan seolah2 ga tau hal ini. Penjaga jalan tol juga. Gilanya, para penumpang juga tetep maksa naik ini, karena kebutuhan yg mendesak: TERLAMBAT dan MACET. Oh no, babe. Makin bikin gregetan lagi, kalau kita sedikit ngeluh dengan pelayanan yang kurang memuaskan tsb, para penumpang disindir agar naik taksi dan tidak usah naik bis tsb. Phuihh—siapa yg butuh elu? He3x, ya begitulah. Tapi mau diapakan lagi? Supir dan penumpang sama2 butuh. Itu hubungan timbal balik yang bergantungan namun agak mengesalkan namun bisa bertahan dan susah retak. Ho-ho-ho—itu klo dianalisa secara social exchange theory ya….

Mungkin yg harus dibiasakan—untuk solusinya nih—ialah para pelayan dan pengguna jasa dinas perhubungan agar mengerti dan memahami apa tugas dan hak mereka sebagai pengguna jalan. Mengapa mereka harus menjaga keselamatan mereka masing2. kenapa mereka ga boleh berhenti dan naik sembarangan. Kenapa ada rambu2 lalu lintas. Kenapa merokok dalam bus yang ber-AC ga boleh? Kenapa buang sampah di jalan juga ga boleh? Kenapa berdesak2an dan memaksa penumpang untuk bersempit2an dalam bus berbahaya dan sangat tdk diperbolehkan. Oh, please deh. Gmn nih??

Pokoknya agak2 geram juga dengan pelayanan angkutan dan jasa perhubungan lain. klo bus way udah cukup bagus deh. Tapi… masih ada yg kurang enak aja. Stasiun yg makin lama makin terlihat tidak terawat. Oh yes, for this one. Moga jasa transportasi di Indonesia makin baik deh. Amin…

Monday, August 11, 2008

Merenungi Kemakmuran Kita

“Barangsiapa yang berada dalam keadaan aman di tengah kaumnya, sehat tubuhnya, ada yang akan dimakan hari itu, maka sepertinya dunia telah digiring kepadanya dengan segala isinya.” (HR Tirmidzi)

Saya agak trenyuh membaca hadis diatas. Hadis tersebut membuat saya berpikir dan merenung. “Barangsiapa yang berada dalam keadaan aman di tengah kaumnya…” saya pikir saya aman hidup di Indonesia. Dan mungkin juga (pasti) jutaan penduduk muslim lain di Indonesia ini, meski kita hidup sederhana tentunya.

Lalu, “… sehat tubuhnya.” Alhamdulillah saya termasuk sehat, meski jarang berolahraga (itu tandanya kurang bersyukur ya?). dan, “… ada yang akan dimakan hari itu…” setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, saya bisa memakan apapun yang saya mau. Dan saya selalu menemukan makanan yang bisa dimakan di meja makan. Meski bukan orang kaya, namun alhamdulillah selalu merasa cukup dan lebih dari cukup.

“… maka sepertinya dunia telah digiring kepadanya dengan segala isinya.”
Ingin menangis rasanya membaca kalimat terakhir dari hadist ini. Saya AMAN-SEHAT-MAKAN berarti SAYA TELAH DIBERI DUNIA OLEH ALLAH. Namun mengapa, terkadang hati ini selalu merasa kurang puas. Selalu ingin lebih-lebih-lebih. Padahal, masih banyak orang kurang beruntung. Mereka tidak aman—tidak sehat—kurang makan.

Muslim di Indonesia ini masih tergolong makmur. Sangat-sangat makmur. Meski memang tidak semakmur bangsa arab. Namun kita hanya kurang mensyukuri segala hal. Tanpa sadar orientasi kita terlalu duniawi, padahal jika kita membaca dan merenungkan hadist tadi sebenarnya seisi dunia sudah ada di tangan kita dan kita tinggal menjalankan segala orientasi akhirat. Mungkin itulah hikmahnya mengapa Allah memberi kita segala kekayaan itu, yakni supaya memudahkan kita untuk menjalankan segala perintahnya agar bahagia di akhirat tadi. Namun sayang, kebanyakan kita tidak menangkap pesan itu. Kita malah menjadi ambisius dan selalu ingin dan berlomba-lomba menjadi yang pertama dalam orientasi keduniaan. Keinginan itu terkadang membuat hati dan jiwa social kita tertutup. Kita lupa dengan saudara di sekitar kita yang tidak berkecukupan dan selalu merasa kekurangan. Mereka menunggu bagian mereka diberikan. Bagian mereka yang tersimpan dalam harta kita. Bagian mereka yang dititipkan Allah. Semoga kita menjadi sadar atasnya. Dan semoga jiwa-jiwa ambisius kita atas keduniaan perlahan-lahan terhapuskan dan tergantikan dengan semangat akhirat! Amin!