Saturday, March 14, 2009

Muslimah, Apa yang Dikau Inginkan untuk Diri dan Bangsamu?

Allah menciptakan dua jenis manusia di dunia ini yakni laki-laki dan perempuan. masing-masing memiliki keistimewaannya tersendiri. namun selama ini pandangan dunia terhadap perempuan begitu melemahkan, perempuan yang tidak cepat tanggaplah, hanya menyusahkanlah, tidak bisa ikut berkompetisi dengan lawan jenisnya, hanya dibutuhkan untuk urusan rumah tangga saja, dll. maka itulah kenapa pemikiran Feminisme muncul. mungkin saking merasa dipojokkan, kaum feminisme ngotot menyuarakan persamaan antar laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal! padahal harusnya tidak begitu juga.

Laki-laki dan perempuan memang berbeda pada dasarnya, namun perbedaan itu dimunculkan justru untuk saling melengkapi. Tuntutan persamaan dalam setiap hal bisa jadi akan menyusahkan perempuan sendiri. Namun demikian, perempuan pun tidak bisa juga dianggap rendah. Mereka punya suara yang menentukan nasib mereka *asal tidak melawan takdir tentunya*. Bahkan mereka pun punya hak suara dan tindakan dalam menentukan nasib bangsa ke depan. Bagaimana menurut antunna? Kira-kira apa yang ingin antunna lakukan untuk bangsa ini?

Bagaimana jika perempuan menjadi pemimpin? Bisa saja. Asal memang capable dalam menguasai segala bentuk permasalahan bangsa ini. Bisa dengan arif mencari solusi dan bekerja sama dengan pihak manapun. Tapi terlalu sempit jika kita berdebat tidak bolehnya perempuan menjadi pemimpin negeri ini. Lebih baik kita bicara mengenai keinginan perempuan itu sendiri dalam menyikapi persoalan bangsa. Ada yang mau sharing pendapat? Kira-kira apa yang ingin antunna berikan untuk bangsa ini? Meski sebagai istri dan ibu, kita pun berhak menentukan kemana arah bangsa ini? Jangan sampai kita hanya manggut ketika disodori kebijakan, apalagi kebijakan itu ternyata tidak memihak kaum kita. Sampaikanlah, ukhti. Sampaikanlah.
Memang saya sengaja ingin mendengar pendapat antunna. Karena kita tidak bisa bertanya pada laki-laki tentang apa yang perempuan inginkan. Setiap jiwa punya suara yang berbeda. Dan saya yakin perempuan punya sendiri pilihan dan opini untuk ummat. Ya ukhti, sampaikanlah. Sampaikanlah. Just reveal what’s on your mind.

Friday, March 13, 2009

Mengenang Tawuran

Hmm, kekerasan-hegemoni-bullying , apa lagi ya? Begitu banyak kekerasan yang kita lihat di sekitar. Tapi saat ini saya hanya ingin membatasi pada tingkat siswa dan mahasiswa saja. Baik, kita mulai dengan kata TAWURAN.

Saya mengenal kata ini sejak SMP kelas 1. ketika itu sedang seru-serunya era tawuran-demo-reformasi-kerusuhan-penjarahan. Apalagi sekolah kami berada di pinggir jalan Salemba. Jika boleh disebutkan nama sekolahnya yakni SMPN 216 Jakarta yang terletak di Jl. Salemba Raya No.18 (masih hapal gw,, hehe). Hampir setiap hari saya melihat fenomena seperti ini. Berangkat dan pulang sekolah terkadang dengan diliputi dengan perasaan takut-takut. Akan ada apa hari ini? Tawuran apa lagi ya? Mana sama mana ya? Ada kerusuhan ga ya? Ada demo ga ya? Begitulah.

Saya melihat hal ini dengan penuh miris (pastinya). Kenapa sih para generasi muda kita ini? Ampun deh. Mereka bukan tidak bersekolah, juga bukan berasal dari keluarga yg tidak berpendidikan. Tapi mental berkelahi pun memenuhi awang-awang syahwatnya. Tidak habis pikir juga mereka rela mati konyol demi tindakan hegemoni kelompok dan pribadi yang meliputi diri mereka. Menjadi bullying yang tidak pernah habis. Padahal di sekitarnya orang-orang merasa ngeri. Astagaaaa…

Jadi teringat kejadian yang terjadi ketika saya kelas 2 SMP (buat yg dulu anak kelas 2-2, gapapa ya gw cerita ini). Ketika itu para siswa laki-laki suka melakukan simulasi tawuran dengan kertas yang dibentuk menjadi bulat padat dan dijadikan senjata. Kelas jadi ramai penuh kertas terlempar-lempar. Saya Cuma bisa bengong *wah, teman-teman gw…*. Saya pikir simulasi ini hanya berhenti sampai disini saja, tapi ternyata tidak. Ketika itu ada waktu santai selepas pelajaran olahraga. Para siswi pun bergegas menuju kantin atau kelas, sedang siswanya masih asyik main di luar gerbang *meski masih dalam komplek sekolahan SD kenari-216-SMA 68*. Dan waktu terus berjalan, namun tiba-tiba beredar kabar ada kecelakaan yang menimpa salah seorang teman yang berinisial GA (bukan Gapura Angkasa atau Garuda Indonesia ya). Usut punya usut kecelakaan itu terjadi akibat simulasi tawuran yang dilanjutkan selepas olahraga, dan kini tidak lagi menggunakan batu yang terbuat dari kertas, tapi… ah entah yang jelas ketika itu mata GA berdarah dan segera dilarikan ke RS terdekat entah RSCM atau Saint Carolus, lupa.
Dan akhir kejadian itu ialah, GA tidak masuk beberapa hari, sedangkan para siswa lelaki dihukum untuk mengumpulkan batu sebanyak 1000 buah tiap hari (berapa hari nih ya?). ck-ck… dasar anak muda, moga kapok. Dan gimana kabar GA saat ini? Insya Allah baik dan sehat, beliau sedang menyusun skripsi saat ini. Kebetulan saya bertemu lagi dengannya pada fakultas yang sama di universitas.

Lalu bagaimana saat ini? Masih adakan tawuran? Mungkin tidak seheboh zaman dulu ya. Tapi bullying masih ada aja. Dan bahkan terjadi di beberapa SMA unggulan di bilangan Jakarta *nama SMAnya tidak perlu saya sebutkan*. Entah itu perkelahian antar angkatan, geng, ketika OSPEK, dll. Yang menarik terkait dengan kasus yang terjadi di belakangan ini. Entah itu kasus geng Motor, geng Nero (anggotanya hobbi banget nge-burning kali ya. Makanya namanya NERO), juga geng dll. Atau juga kasus perkelahian antar siswi yang marak dan diliput video HP Cuma gara-gara berebutan laki-laki, bahkan sampai ada yang dibekali sarung tinju oleh guru olahraganya. Itu tingkat SMA.

Kalau tingkat Universitas, wah di UIN sih kadang suka *berantem* gara2 perhitungan suara pemira. Ya ga? Hehe *ups piss*. Tapi kalo saya sering mengamati, di wilayah Sulawesi kayaknya sering juga ada kerusuhan mahasiswa. Kalo di bilangan Jakarta, paling-paling ada tawuran yg terjadi antar beberapa kampus swasta yg ada di bilangan Salemba-Paseban-Matraman. Waduh-waduhh…

Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini? Bullying…bullying. Salah satunya ialah, para generasi muda ini lebih diperhatikan! Mereka harus diberi pengertian dan pemahaman yang baik mengenai bagaimana cara yang baik menyalurkan kreativitas. Bukannya malah berantem ga jelas. Kalo nafsu banget berantem, ya masuklah kelompok seni bela diri. Kalo pengen terkenal dan diperhatikan, jadilah artis *tapi jangan jadi model iklan sabun yang tertipu*. Kalo mau jadi pemimpin, jangan abal-abalah, sekalian saja total di salah satu organisasi *meski pada awalnya nafsu pengen jabatan, tapi pasti lama-lama sadar diri kok*. Kalo suka “bersumpah-serapah” *salurkanlah lewat tulisan-puisi-artikel-lirik lagu*. Kalo suka banget nyorat-nyoret, jangan suka bikin jelek tembok orang *mending belajar gravity, atau ikutan lomba. Kabarnya ada LOMBA MURAL yang diadain KAMMI PUSAT tuh, dibuka minggu depan sama wapres JK*.

Gimana teman2, ada solusi lain? atau mungkin ingin berbagi kisah tawuran-kekerasan-kerusuhan-bullying yang pernah dialami atau dirasakan? Mungkin di bilangan Bekasi-Tangerang-Depok atau yang lain? Silahkan. Saya mendengar dan menyerap. *lagi latihan jadi pemimpin masa depan, hehe*

Wednesday, March 4, 2009

Kesombongan Mengalahkan Hati Nurani

saya menyebut kisah (berjudul 'Kesombongan Mengalahkan Hati Nurani') yang akan saya sajikan dibawah ini ialah merupakan kelengkapan dari artikel yang diberikan Akh Umam kemarin. kisah dibawah ini diambil dari buku serial "30 KISAH TELADAN jilid 3" karya K.H. Abdurrahman Arroisi, terbitan PT. Remaja Rosdakarya Bandung, cetakan ke-9 taun 1994, beli taun 94 (juga) di toko Walisongo, Kwitang, harganya masih Rp. 2.750,- (kisah dibawah ini ditulis ulang dgn sedikit lebih singkat o/ saya)

Sudah semenjak sebelum kedatangan Islam, Abu Dzar Al Ghifari bersahabat akrab dengan Abu Jahal. Keduanya sama-sama saudagar dan malah berkongsi dagang yang saling menguntungkan. Bila berkunjung ke kota Makkah, Abu Dzar selalu membawa barang-barang dagangan yg dijual dgn perantara Abu Jahal. Pada suatu hari kedatangan Abu Dzar tdk membawa apa-apa. Tidak membawa barang, dan tidak pula uang perniagaan.

AJ (Abu Jahal): Engkau membawa barang dagangan wahai sahabatku?
AD (Abu Dzar): Tidak.
AJ: Engkau membawa uang?
AD: Juga tidak.
AJ: Sudah gilakah engkau sahabatku? Datang jauh2 ke Makkah tanpa membawa barang ataupun uang. Sintingkah engkau? Jadi dengan tujuan apa engkau kemari?
AJ: Kali ini kedatanganku kemari bukan utk mengadu untung dlm perdangan.
AD: Lalu, utk apa?
AJ: Aku ingin bertemu dgn kemenakanmu.
AD: Utk apa bertemu dgn kemenakanku? Siapa yg kau maksudkan?
AJ: MUHAMMAD. Aku dengar dari sahabatku bahwa ia telah diangkat menjadi Rasul. Bukankah Muhammad anak saudaramu? Engkau harus bangga mempunyai kemenakan semulia itu.
AJ: Hai sahabat, dengarkan nasihatku. Jangan kau temui dia.
AD: Mengapa?
AJ: Muhammad itu amat menarik. Sekali berjumpa engkau akan terpikat kepadanya. Wajahnya bersih. Perkataannya berisi mutiara hikmat. Perilakunya amat lembut, dan sopan santunnya sangat luar biasa. Apalagi jika ia membacakan wahyu, semua kalimatnya menyentuh jiwa.
AD: Berarti engkau yakin ia seorang Rasul?
AJ: Tentu saja, kenapa tidak. Mustahil ia bukan seorang rasul. Otaknya amat cerdas. Budi Pekertinya sangat mulia. Daya tariknya hebat bukan main.
AD: Engkau yakin, kemenakanmu itu Utusan Allah.
AJ: YAKIN BETUL
AD: Kau percaya bahwa ia benar?
AJ: LEBIH DARI SEKEDAR PERCAYA.
AD: Jadi kau mengikuti ajaran agamanya?
AJ: APA? Ulangi sekali lagi pertanyaanmu?
AD: Maksudku, apakah engkau sudah menjadi pemeluk Islam?
AJ: AKU MASIH TETAP ABU JAHAL, sahabatku, bukan orang yang sudah miring. Dibayar berapapun aku tak mau jadi pengikutnya.
AD: Bukankah engkau yakin bahwa Muhammad itu benar?
AJ: Walaupun aku yakin bahwa Muhammad memang benar, aku tetap akan melawan Muhammad sampai kapanpun juga.
AD: Apa sebabnya?
AJ: Kedudukanku dan wibawaku akan hancur berantakkan bila aku mau menjadi pengikut kemenakankusendiri. Akan kuletakkan dimana mukaku di mata bangsa Quraisy?
AD: Pendapatmu keliru, sahabat.
AJ: AKU TAHU BAHWA AKU MEMANG KELIRU.
AD: Dan kelak engkau bakal kalah.AJ: Ya, bisa saja aku kalah. Bahkan aku tahu, di akhirat bakal dimasukkan ke dalam neraka jahim.Tapi aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia, walaupun di alam sana aku pasti dikalahkannya.

Demikianlah yang terjadi, hati nurani (kebenaran) sering kali terpaksa tunduk oleh keserakahan dan kesombongan diri. mungkin saja kita mengerti dan tahu akan kebenaran, namun kadang ego pembenaran diri menjadi tinggi dan mengalahkan kebenaran itu sendiri.Wallahu'alam...moga bisa dipetik hikmahnya.

Sunday, March 1, 2009

Rumus-Rumus

aku dipermainkan..
rumus-rumus mati ialah merupakan
aku tertekan-aku tertekan
semua gara-gara banyak makan

saraf-saraf kepala memberontak
membuat bayangan jadi kotak-kotak
jantungku mendetak-jantungku mendetak
semua karena jalan setapak

otak dan hatiku mati
tumpul jadi bagian kata hati
semua meneriaki-semua meneriaki
dinding-dinding retak tak peduli

kemana rumus-rumus itu pergi?
tangisan menjadi isi-isi
nurani memaki-nurani memaki
semua gara-gara maksiat diri

ditulis pada:
7 Januari 2004, pukul 12.58 (ketika sang penulis tengah dilanda kecemasan menghadapi jelang UAN SMA)

Friday, February 27, 2009

POLITIK RAKYAT

Semua menghujat!
Menggertak ribuan kali meja-meja
Menghumbar menu hangat di warung-warung kopi
Itulah yang jadi komposisi kali ini

Semua mengumpat!
Ketika gubug-gubug di bantaran kali digusur
berteriak-teriak menjadi demonstran dadakan
tanpa harus takut lagi pada keamanan,
semua turun tangan

Semua mendamprat!
Di kantor, di warung, di dapur,
juga di kolong jembatang markas besarnya kolongmelarat
semua hinaan ditumpahkan di jalanan
juga di handuk-handuk para tukang becak

Semua melarat!
Rakyat-rakyat kelaparan
juga tanpa kedamaian
karena semua adalah kelabu
tanpa ada pelindung kebenaran
semua uneg-uneg dimuntahkan

--ditulis pada 27 Desember 2003, pukul 18.06 di Sukabumi ketika sang penulis masih SMA--